Mimpi, dan rencana Tuhan

Sekedar membuat coretan kecil saja,

Saya tipe orang  yang senang  bermimpi, bermimpi itu indah dan menyenangkan. Lebih menyenangkan jika ternyata mimpi-mimpi itu dapat benar-benar kita rasakan  menjadi nyata. Namun, tentu saja butuh usaha mewujudkannya bukan? Tuhan tidak semata-mata menciptakan mahluk-Nya hanya untuk pasrah dan  menerima takdir. Tuhan membekali kita dengan emosi jiwa, perasaan, logika, dan  kemampuan untuk bersaing mendapatkan kemuliaan, dan kebahagiaan yang diridhoi-Nya. Mulia dan bahagia tidak harus menjadi orang kaya yang bergelimang harta. Namun kaya dalam arti ia memenangkan dirinya dengan segala kesyukuran atas hidupnya.

Menurut agama yang saya anut. Semua manusia sama di mata Tuhan. Meskipun di mata  saya, saya merasa itu berbeda. Namun saya masih yakin  bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama. Tinggal bagaimana dia  berusaha. Dan Tuhan yang akan menilai usaha  kita. Namun kadangkala, setiap usaha tidak selalu diakhiri dengan hasil yang diharapkan, malah terkadang gagal total. Bersyukurlah, Tuhan punya rahasia yang  tidak diketahui mahluk-mahluk -Nya.

Terpuruk dalam kegagalan atas rencana kita, merupakan ujian Tuhan sebelum Ia berikan rencana-Nya. Ada banyak orang, termasuk saya pernah gagal dalam hidupnya dan terpuruk dalam waktu yang lama. Dan saya baru menyadari hal itu sekarang. Saya pernah benar-benar tidak mengerti terhadap rencana Tuhan. Sepertinya apa yang saya lakukan selalu salah dan membuat saya terpuruk. Dan saat ini saya baru sadar, Tuhan waktu itu memperingatkan saya akan kesombongan. Tekad besar saya yang berujung kesombongan. Saya akui.

Dan berubah menjadi lebih baik  juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Keegoisan terkadang masih muncul dihati saya yang bisa berujung pada kesombongan itu lagi yang membuat mimpi-mimpi itu saya rasa dekat namun ternyata masih sangat  jauh. Mungkin Ia tahu, jika mimpi itu  diwujudkan-Nya, mungkin kembali berakhir seperti  yang dulu. Sepertinya Tuhan menginginkan adanya jaminan apakah kita benar-benar sanggup menerima dengan ikhlas, dengan rasa syukur atas mimpi itu atau tidak.

Saya tarik kesimpulan, saya rasa tercapai-tidaknya mimpi itu bukan hanya didasari dengan seberapa besar kemauan dan ikhtiar yang dilakukan oleh manusia, tetapi juga adanya jaminan kita tidak menyombongkan diri atas apa yang kita peroleh. Dengan begitu Tuhan akan yakin memberikannya pada kita.

Posted on 30 April 2012, in Pena Hati and tagged . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Amin…!!!
    Nice post girl….🙂

Komentar untuk penulis

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: